Featured Image Article 1486

Polusi Udara Menyebabkan Obesitas? Apakah Benar?

Pencemaran udara berupa polusi ternyata berisiko meningkatkan terkena kegemukan atau obesitas. Wah, apa jadinya pada kamu yang sering terpapar polusi udara?

Kasih Elia Photo
Kasih Elia
Blogger
di Lifestyle

Baru-baru ini, beberapa rumah sakit di Spanyol mengadakan penelitian mengenai apakah polusi udara mempengaruhi tingkat obesitas tubuh atau tidak. Dan dari 300 responden yang diteliti, ternyata hasil yang didapatkan juga cukup mengejutkan para peneliti di rumah sakit tersebut.

Pemimpin penelitian Polusi-Obesitas ini, yaitu Juan Pedro Arrebola dari Universitas Granada di Spanyol mengatakan, “Ditemukan bahwa orang yang tubuhnya memiliki level polutan organik persisten (POP) yang tinggi, ternyata memiliki kadar kolestrol dan trigliserida yang tingginya lebih dari orang-orang yang kadar polutan dalam tubuhnya lebih rendah.

BACA JUGA: Dampak Buruk Rokok Bagi Kulitmu

Bapak Arrebola juga menambahkan fakta bahwa polusi udara, yang memang akhir-akhir ini meningkat seiring bertambah banyaknya pabrik dan kendaraan berpolusi, juga merupakan faktor penting yang beresiko meningkatkan pengembangan penyakit jantung dan pembuluh darah (penyakit kardiovaskular).

“Polusi sering masuk kr dalam tubuh manusia melalui makanan. Polusi (POP) ini juga terakumulasi di dalam lemak tubuh. Karena itulah penelitian yang kami lakukan dipaparkan dalam penelitian jangka panjang dan menunjukkan hasil rata-rata individual selama beberapa tahun. Tujuannya ya, untuk memperlihatkan akumulasi POP di dalam itu.” Ujar Arrebola.

Nah, ladies, penelitian itu dilakukan oleh rumah sakit di Spanyol. Kalau polusi dari kota maju seperti Spanyol saja sudah memicu tingkat kolesterol dalam tubuh kita, apa jadinya kita yang setiap hari terpapar polusi dalam jumlah yang tidak wajar ya? Berdoa saja kita menemukan solusi yang lebih baik untuk permasalahan ini atau kamu bisa mengurangi terpapar polusi dari makanan dengan membelibahan makanan organik dan mengeolah makananmu sendiri. 

BACA JUGA: Masker Bedah di Jepang, Fashion atau Function?